Top Social

Wandering & Wondering

Memanusiakan Manusia (Bagian Dua)

8/07/2017

Sudah mulai bisa melihat sisi-sisi manusia banyak orang? Sip, syukurlah.

Yap, selain orang-orang lain, nampaknya kadang kita luput untuk memanusiakan orang-orang terdekat kita seperti keluarga, sahabat, atau mungkin pasangan kita.
Misal, kita merasa ibu kita sudah biasa dengan sikap kita yang menyebalkan jadi tidak apa-apa kalau sekali-kali (atau sering) meninggikan suara, toh sudah biasa. Kita lupa bahwa ibu kita punya hati, yang tergores bahkan terhujam berkali-kali atas setiap kata menyakitkan yang kita keluarkan. 

Kita punya orang yang kita kagumi, kita menyukai banyak hal darinya. Kalau dilihat dari jauh dan belum kenal dekat, rasanya orang itu hebat luar biasa. Kita lupa bahwa orang itu juga ya 'orang' pada umumnya. Kalau sudah kenal dekat, pasti ada kekurangannya. Atau misalnya ada orang yang hidupnya 'terlihat' lancar-lancar aja, medsosnya isinya traveling sana-sini, makanannya enak-enak, bakatnya banyak, follower-nya banyak, hidupnya terlihat enak. Kita lupa, bahwa Ia juga seperti kita yang harus kerja keras untuk mencapai banyak hal, yang harus menabung sedikit demi sedikit, yang juga punya masalah besar dalam hidupnya yang tidak kita tahu. 

Kita merasa bahagia dengan sahabat kita yang mengerti kita apa adanya dan berbagai deretan kelebihan lainnya, tapi setelah kita dikecewakan oleh tingkahnya, kita sakit hati dan lari. Kita lupa bahwa sahabat kita pun bertahan dengan kita sejauh ini mungkin dengan perban disana sini di hatinya atas candaan yang tidak disengaja namun menyakitkan, atau hal-hal lainnya. Kita lupa bahwa sahabat kita juga punya kekurangan yang harus kita pahami, terima, dan kemudian sama-sama saling mengingatkan dan memperbaiki.

Kita terbuai dengan memiliki pasangan yang sempurna, misalnya ingin pasangan seperti ‘ikemen’ jepang atau ‘oppa’ korea yang super romantis, ganteng pula, padahal kita biasa aja. Setidaknya kalaupun tidak seganteng mereka, harus peka oleh berbagai kode kita. Atau ingin pasangan seperti Oki setiana Dewi atau Raisa, yang cantik, anggun, lucu, dan lain sebagainya. Tapi ternyata, pasangan kita jauh dari ekspektasi-ekspektasi kita, kecewa jadinya dan membanding-bandingkan. Inginnya mereka mengerti apa yang kita mau plus menerima kekurangan. Kita lupa mereka punya kekurangan yang mungkin tiap tahun kebersamaan akan semakin bertambah sikap menyebalkannya.

Kita lupa bahwa mereka semua adalah manusia. Kita ingin dimanusiakan tanpa ingin memanusiakan. Ups, mungkin bukan kita. Mungkin saya. Mungkin kamu sudah selesai dengan urusan seperti ini. Maka saya masih harus banyak belajar dari kamu. Masih harus banyak diingatkan. Eh ya, tapi ini bukan berarti kita bisa seenaknya terus-menerus bilang "Aku kan manusia!" sebagai tameng atas kesalahan dan kekeliruan yang disengaja. Untuk diri sendiri, sebagai manusia yang memiliki fitrah baik sejak kita lahir, tidak ada salahnya kita terus memperbaiki diri untuk jadi 'manusia' yang lebih baik, untuk memandang orang sekitar kita, pandanglah dengan kacamata kemanusiaan supaya bisa menerima sekaligus sisi cahaya dan gelapnya. 

Terakhir, saya hanya ingin berterima kasih pada orang-orang yang masih ingin menemani saya hingga saat ini, meski tahu bahwa saya punya segudang kekurangan plus menyebalkan. 



Terimakasih sudah memanusiakan aku. ;)

Memanusiakan Manusia



“Rocker juga manusia, punya rasa, punya hati. Jangan samakan dengan pisau belati”

Familiar dengan lagu itu? Selamat anda ternyata sudah berumur. Haha. Lagu jadul tersebut mencoba untuk mengajak kita sama-sama sadar, rocker yang kelihatan garang saja, masih punya rasa dan hati loh. Punya emosi sedih, senang, bahkan galau!

Dan ternyata, tidak hanya rocker saja loh yang ingin diperhatikan sebagai manusia. Ada artis yang juga harus mengingatkan penggemarnya, “Seleb juga manusia, loh!” atau profesi-profesi lainnya sekalipun, seperti misalnya ketika ada dokter yang jatuh sakit, 

“Lah, dokter kok sakit?”
Kemudian, kembali muncul pernyataan, “Dokter juga manusia”
Atau
“Guru kok gitu sih!”
“Guru juga manusia tau!”
Atau
“Oooh kamu ternyata suka main juga ya. Aku kira kamu sukanya belajar doang, hehe”
“Yeee, aku juga manusia kali”
Dan mungkin bertambah lagi daftar ‘ingin-diakui-manusia’

Kita bisa jadi berada pada dua posisi itu, merasa heran dengan orang lain yang ‘kok dia bisa gitu sih?” ketika ada yang tidak sesuai dengan pendapat pribadi kita tentang orang lain dan di sisi lain juga berkata lantang “Gini-gini, aku juga manusia, loh”

Lama-lama, aku mulai bertanya-tanya sendiri, kenapa bisa ada istilah itu, ya? Istilah ingin diakui sebagai manusia, sampai harus ada penekanan, “Aku juga manusia (sama kayak kamu)”
Berdasarkan perbincangan dengan orang-orang kecil di kepala saya, Mungkin ini karena kita selalu berekspektasi tinggi pada orang-orang di sekitar kita, tapi di sisi lain kita ingin diri kita dimengerti oleh orang sekitar kita dengan berbagai kekurangan kita atau sisi lain kita yang tidak dipahami orang lain. Kita ingin diperlakukan sebagai manusia yang punya banyak sisi, sebagaimana manusia lainnya. Tapi, kadang, kita lupa untuk ‘memanusiakan manusia’ lainnya.

Memanusiakan manusia?

Maksud memanusiakan manusia disini (setidaknya versi yang aku punya) adalah menyadari bahwa manusia itu punya begitu banyak sisi. Tidak hanya dua warna: hitam atau putih. Ya kalau enggak jadi orang baik, ya dia pasti orang jahat. Kita lupa, kalau orang yang ‘baik’ itu punya sisi-sisi lain, punya kekurangan dan kesalahan. Kita lupa, kalau orang yang kelihatannya ‘jahat’ punya sisi baik yang tidak terduga. Ya padahal namanya manusia itu punya sisi lebih dan kurang. Seperti halnya aku, dan seperti halnya kamu. 

Kita mungkin terlalu terbuai dengan dongeng-dongeng hitam vs putih yang selama ini meninabobokan kita. Misalnya, kisah Cinderella. Cinderela yang cantik, baik hati, patuh pada orang tua tersiksa oleh ibu tirinya dan kedua kakak tirinya yang super duper menyebalkan. Terlihat orang baik pasti baik, orang jahat pasti jahat. Padahal itu Cinderella anak bandel juga loh, dilarang sama orang tua pergi ke pesta malam-malam, malah kabur mau ketemu ‘gebetan’ plus meminta pertolongan ‘makhluk gaib’. Hadeeeh. Hahaha

Ibu tirinya sendiri yang super nyebelin itu meski menyebalkan, mencintai kedua anak kandungnya tanpa tapi. Rela melakukan apapun untuk kebahagiaan anaknya. Kakak Cinderella bersikap jahat mungkin hasil dari lingkungannya sejak dulu yang membanding-bandingkan mereka dengan gadis cantik lainnya, yang membuat mereka merasa ‘tidak cukup cantik’, pasti ada sisi-sisi kedua kakak tiri Cinderella ini sedih dan galau, namun di depan terlihat ‘setrong’ dan galak. Yah, sama lah kayak kisah bawang merah putih, atau sinetron 90an ‘Bidadari’ atau bahkan sinetron sekarang juga tipenya masih sama ya?

Aku sama sekali tidak bilang kisah Cinderella itu sebenarnya begitu ya, itu hanya imajinasi liar saya yang mencoba mencari bahwa manusia itu memiliki begitu banyak sisi. Bisa jadi satu sisi membuat bahagia, satu sisi membuat kesal. Sayangnya banyak dari kita ingin bertahan dengan sikap bahagia, tapi enggan menerima kekurangan yang membuat kesal. Ya kalau tidak ingin kecewa, berharap sama Pencipta saja. Kalau sama manusia pasti ada kecewa, lah karena mereka ‘manusia’ kan?

Kita juga.

(Lanjut ke Memanusiakan manusia Bagian 2)

Bercengkerama dengan Kematian dalam 'Meja Bundar'

8/01/2017
Kita bisa sama-sama setuju kalau kematian adalah hal yang tabu untuk dibicarakan, jika kamu tidak merasa begitu, mungkin setidaknya lingkungan sekitar kita yang merasa hal itu tabu. 
"Ih, apaan sih ngomongin mati. Udah ah, jangan ngomongin gituan"
Itu adalah salah satu respon temanku saat berbicara tentang kematian di tengah perbincangan yang campur aduk. Atau kalaupun memang jadinya dibicarakan berakhir dengan hening, setiap sosok kemudian tenggelam dengan kepala sendiri memikirkan kematian versi masing-masing. 

Akhir-akhir ini saya sedang mendengarkan kembali lagu-lagunya 30 seconds to Mars, khususnya 'The Kill" yang membuat saya malah kepikiran kematian. Tapi ya memikirkannya saja saya sudah merinding. Kemudian, munculah buku meja bundar ini di hadapan saya, buku yang berani-beraninya membawa tema kematian ke hadapan kita. Judulnya "Meja bundar", penulisnya Hendra Purnama & Latree Manohara, penerbitnya Bitread. Buku macam apa ini?

Mulai dari mana ya. Saya coba untuk menggambarkan dengan tidak memberikan 'spoiler' ya. Tapi kalau kelepasan, ya maapin, okeh? Tapi tenang aja, soalnya saya juga tidak suka spoiler.


Awal mula saya lihat covernya saya langsung berpikir, "Yaah, jangan-jangan ini cerita macam jumanji, atau Zathura, bosen", terus saya balik ke belakang covernya, "Jika kematian adalah sebuah solusi, akankah kamu memilihnya?" Hayoloh, tulisan di belakang malah provokatif plus serem-serem gimana gitu. Eh, saya masih suudzan gitu, "Jangan-jangan Jumanji disatuin sama Hunger games" Bagus sih kayaknya, tapi kalau cerita kayak gitu lagi, bosen juga. Tapi, kemudian saya lihat lagi pada nama penulis, terlebih Hendra Purnama atau nama bekennya Hendra Veejay ini sudah malang melintang di dunia kepenulisan dengan konsumsi buku yang bejibun, terlebih beliau aktif di dunia perfilman yang pasti sudah hapal betul storytelling yang bagus itu kayak gimana. Apalagi ditambah dengan kehadiran Latree Manohara sebagai penulis yang aktif menulis juga. Saya jadi semakin tertarik, cerita macam apa yang akan disodorkan oleh duet penulis ini kepada pembaca. 

Jadi gini, cerita ini menceritakan tentang tiga sekawan bernama Azzuhri, Elias, dan Kirani. Mereka sudah 10 tahun tidak pernah berjumpa, dan memang dulu mereka bertiga sudah membuat perjanjian bahwa dalam sepuluh tahun lagi mereka akan bertemu hanya bertiga. Reuni yang biasanya hanya berisi basa basi tentang kabar, keluarga, dan pekerjaan di atur sedemikian rupa oleh Elias yang mengusulkan untuk memainkan sebuah permainan bernama "Sincerity". Duh saya masih bergidik sendiri kalau menyebutkan nama permainan ini. 

Jadi, permainan ini sebenarnya sangat sederhana, tentang menebak sebuah pernyataan masuk dalam kategori "Jujur" atau "Bohong". Tapi, disinilah letak hebatnya penulis buku ini. Sebuah hal sederhana seperti permainan seperti itu saja bisa mengantarkan pembacanya pada perenungan dalam tentang sebuah filsafat kematian dan tentunya tentang hidup itu sendiri. Kisah reuni mereka ini hanya berlangsung dalam 18 jam yang terangkum dalam 305 halaman. Bayangkan satu buku hanya 18 jam. Ini menjadi sebuah tantangan sendiri bagi penulisnya, karena biasanya kebanyakan novel berlangsung dalam jangka waktu yang lama. Dan yang lebih memesona saya adalah, dalam kisah yang hanya 18 jam, penulis bisa memasukkan kisah ketiga tokoh, berbicara tentang filsafat kematian, teori ini itu, perbincangan ringan, hingga mengaduk-ngaduk emosi pembaca tanpa terasa terlalu terburu-buru. Dan ending-nya sodara, sodara: bikin otak gatal!

Dan tahukah? Ternyata penulis menuliskan kisah 18 jam ini dalam jangka waktu 5 tahun plus Kang Hendra Veejay ini sampai sempat mengambil kelas filsafat kematian. Yang ada dalam benaknya saat akan menuliskan kisah ini adalah
Jika kematian bukan lagi takdir yang diterima dengan pasrah, tapi adalah sebuah solusi dari masalah yang sedang kita hadapi, maka beranikah kita menempuhnya?
Semua ini ada dalam kata pengantar buku ini dan bisa kita baca di "Kematian dan Postmodern Jukebox" 

Saya baca buku ini sehari aja, karena sulit menyimpan buku ini dengan rasa penasaran yang kian memuncak setiap lembarnya. Saya bahkan baca beberapa bagian sampai berkali-kali. Karena ya saya ingin lebih memahami setiap remah katanya, karena setiap bagian itu saling berkaitan dan membuat otak saya gatal tapi tidak bisa digaruk, serius! Sama seperti saya nonton predestination dan shutter island. Meski kalau cerita beda jauh dan tidak berkaitan sama sekali, tapi perasaan saya setelah membaca ini sama seperti perasaan saya menonton film tersebut. 

Oh iya, novel dewasa ini masuk ke kategori drama, thriller, mystery ya. Buat kamu pecinta novel genre yang sama, ini cocok. Pesan saya saat membaca buku ini, jangan diloncat-loncat, kamu bisa saja loncat ke bagian ending seenaknya, tapi kamu enggak bisa dapat apa-apa. Baca buku ini harus perlahan dan sistematis setiap lembarnya, dan nikmati sensasinya. Kalau nanti kamu sudah baca buku ini, hayu kita ngobrol bareng membahas banyak hal yang tidak bisa saya bahas di sini karena khawatir spoiler. Sekalian kita undang penulisnya untuk menjelaskan banyak hal yang membuat otak kita gatal!