Top Social

Tulis Sarah

Wandering & Wondering

Melahirkan Itu Sakit atau Tidak?

12/19/2022

 

“Birth is not only about making babies. Birth is about making mothers — strong, competent, capable mothers who trust themselves and know their inner strength.”

—Barbara Katz Rothman

  

Gambar oleh Rebecca Scholz dari Pixabay
 
 

Tinggal beberapa hari lagi anakku akan bertemu dengan tanggal ulang tahun pertamanya. Dan bukan hanya itu, aku juga akan bertemu dengan ulang tahun pertamaku menjadi seorang ibu. Kami berdua terlahir menjadi ibu dan anak pada waktu yang sama. Semalam, sebelum aku menulis ini, ketika ia tertidur, air mata menetes begitu saja. 

 

Rasa Sakit yang Masih Terbayang di Kepala

Jika ada yang bertanya padaku, apakah melahirkan itu sakit atau tidak, aku akan langsung menjawab: sakit. Benar-benar sakit. Bagaimana rasa sakitnya? Bagaimana bisa bertahan dan bisa kuat?

 

Sebelum aku menjawab itu, aku ingin mengatakan ini: melahirkan ada proses yang sangat personal. Ya sangat personal. Kenapa begitu? karena pengalaman melahirkan tiap orang itu berbeda. Derajat rasa sakit yang dirasakan juga berbeda-beda. Maka, cerita ini tidak bisa mewakili semua yang dirasakan para ibu melahirkan di luar sana. Jika kamu adalah calon ibu yang sedang hamil dan menunggu kelahiran si buah hati, cerita ini tidak bisa jadi gambaran bagaimana proses melahirkanmu nantinya ya. Dan kalau misalnya kamu adalah calon ibu yang tidak ingin atau tidak kuat membaca cerita tentang proses menyakitkan dan ingin menjaga agar bayangan melahirkan yang baik-baik saja, sepertinya cukup membaca sampai sini saja dan tidak usah diteruskan, tidak apa-apa. 

 

Bagi kamu yang ingin lanjut membaca. Kita lanjut lagi ya. 

 

Kondisi tubuhku yang jarang berolahraga sebelum hamil dan melahirkan, membuat kehamilanku saat itu terasa berat. Tubuh yang tidak terlatih ini tiba-tiba harus siap menanggung beban berat janin yang menempel dan tidak bisa dilepas begitu saja layaknya barbel ketika kamu melatih ototmu yang tinggal simpan saja, beban itu hilang. Janin itu harus aku bawa kemana-mana, dan semakin lama, semakin terasa beratnya. Saat itu, aku jadi menyesal kenapa aku tidak berolahraga yang rutin dan cukup agar kuat ketika hamil. Dan sebelum lebih jauh lagi, sepertinya perjalanan hamilku ini akan aku ceritakan di postingan lainnya. 

 

Yang jelas, ketika aku hamil dan banyak bertanya pada orang sekelilingku tentang proses lahiran. Kebanyakan menjawab, "Sakit sih. Tapi, insya Allah bisa." 

 

"Waktu itu aku ke RS, jam sekian dokter bilang pembukaanku sudah lengkap, akhirnya keluarlah bayiku yang sekarang."

 

"Enggak usah terlalu dipikirin. Yang enjoy aja. Ga terlalu sakit, kok!"

 

"Pokoknya pas lahiran dan kita ngeliat wajah bayi kita, semua rasa sakit hilang."


Sebelum hamil, biasanya teman-temanku akan menceritakan proses hamil dengan banyak ekspresi. Biasanya mereka menceritakan juga rasa sakit yang sulit digambarkan dengan kata-kata. Tapi, ketika aku hamil, banyak yang bilang "Santai Aja" mungkin kesannya ingin memotivasi dan tidak kepikiran ya, tapi itu justru membuatku tidak bisa mempersiapkan diri untuk merasakan rasa sakit yang teramat ketika melahirkan. Ketika proses konstraksi menuju melahirkan pervaginam, yang aku rasakan adalah rasa sakit yang tidak terbendung ketika konstraksi. Saat itu, aku memikirkan semua perkataan orang-orang itu. Di sela-sela membasahi mulut dengan berdoa, aku kesal sendiri (Maafin aku ya Allah) dan berpikir, "Apanya yang enggak sakit? apanya yang santai aja? Kenapa enggak ada yang bilang dan mewanti-wanti aku bahwa rasa sakit ketika konstraksi itu sesakit ini."

 

Selain rasa sakit konstraksi yang aku rasa berkali-kali lipat dari dismenore ketika nyeri haid, atau ketika mules biasa, rasa sakit konstraksi itu berlangsung lama. Aku merasakan nyeri konstraksi selama 24 jam dari pembukaan 1 pukul 2 malam, dan baru melahirkan sekitar 2.30 dini hari esoknya. Seiring pembukaan kian bertambah, rasa sakit juga semakin menjadi-jadi, bahkan ketika pembukaan lengkap, setelah mengeluarkan kekuatan dengan seluruh daya upaya, si bayi tidak langsung keluar. Nyeri konstraksi itu bagiku sangat sakit, perut terasa melilit begitu dahsyat. Bahkan ketika bayi terlahir dan keluar tidak lebih sakit dari konstraksi yang berlangsung berjam-jam. Ketika bayi keluar yang aku rasakan adalah perasaan lega setelah merasakan konstraksi yang begitu lama. 


Pasca melahirkan, semua terasa berat. Aku tidak pernah merasakan rasa sakit dan rasa lelah seperti melahirkan seumur hidupku. Melihat bayiku, aku terharu, tapi rasa sakit tidak kunjung hilang seperti apa yang dibilang orang. Lahiran pervaginam--atau orang awam sebut sebagai lahiran normal--yang berakhir harus dijahit sepertiku, akan juga merasakan nyeri ketika harus buang air ke WC. Dengan badan yang terasa remuk itu, bayi harus langsung disusui dan itu juga tantangan tersendiri, waktu tidurnya yang sering terbangun ketika malam harus dihadapi dengan tubuh yang belum terlalu pulih ini.

 

Tidak Boleh Bilang "Sakit" dan Minimnya Validasi untuk Ibu

Setiap kali aku bercerita tentang rasa sakitku ketika melahirkan, ada saja yang bilang, "Hussh... Jangan bilang gitu. Kan udah terlewati. Harus kuat"

 

Pernah ada juga teman yang hamil menanyakan pengalamanku ketika melahirkan, dan karena dia menanyakan honest opinion, aku ceritakanlah perjuanganku ketika melahirkan lengkap dengan cerita sakitnya konstraksi. Ada seorang ibu yang lewat dan langsung menegurkku, "Eh, jangan bilang gitu. Melahirkan itu anugerah. Jangan bilang sakit, orang enggak sakit, kok!" lalu dia beralih pada temanku dan berkata, "Udah enggak usah dipikirin. Enggak sakit kok, sembuhnya juga cepet."

 

Dan ini aku temui beberapa kali dari ibu-ibu yang seumur ibuku. Adalah sebuah larangan untuk bilang, "Sakit". "Enggak sakit kok. Kuat! bisa!". Kalau yang masih muda-muda, biasanya kita berakhir sepakat bahwa melahirkan adalah proses yang menyakitkan. Mungkin setiap orang mengalami pengalaman yang berbeda dan berbeda pula perasaannya ketika menanggapi ujaran agar seorang perempuan itu harus kuat dan tidak boleh mengeluh sakit. Tapi, buatku secara pribadi, rasa-rasanya perasaanku tidak divalidasi, tidak dianggap berharga, rasa sakit yang aku alami dianggap seperti angin lalu atau aib yang harus ditutup rapat-rapat. Seorang ibu itu harus kuat, tanpa boleh merasakan sakit dan mengutarakan rasa sakitnya. 

 

Tapi, tentu saja bukan salah mereka. Karena, pandangan seperti ini juga pasti ada latar belakangnya. Mungkin para ibu sudah sekian lamanya tidak boleh mengutarakan apa yang ia rasakan, mungkin sudah bertahun-tahun ia tidak divalidasi perasaannya, alih-alih diperhatikan, mungkin para ibu dihakimi sebagai pribadi manja. Karena seorang ibu harus terus tersenyum dan sudah sepantasnya berkorban tanpa boleh sekadar menceritakan apa yang ia rasa. Berat sekali jadi seorang perempuan ya. 

 

Jika lingkungan sekitarku tidak bisa memvalidasi perasaanku, tidak berempati dengan apa yang telah aku lalui, berarti aku sendiri yang harus kuat dan meyakinkan diriku. Untungnya ada suamiku yang selalu jadi tempat cerita dan selalu menganggap aku berharga, tanpa divalidasi perasaan olehnya entah bagaimana jadinya. Ia tahu rasa sakit yang aku alami dan bagaimana aku harus beradaptasi memberikan ASI untuk bayiku, makanya ia melakukan banyak pekerjaan rumah agar aku bisa total beristirahat. Ia belajar memandikan bayi dan mau bergantian menggendong bayi. Darinya aku belajar untuk memberi validasi itu pada diriku sendiri. 

 

"Rasa sakit yang aku alami itu benar adanya dan wajar jika aku merasakan sakit dan kelelahan. Itu bukan berarti aku menjadi ibu yang buruk. Justru aku adalah ibu yang berani dan kuat, karena meski merasakan rasa sakit itu, aku tetap bertahan, tetap belajar menjadi ibu yang terbaik untuk anakku. Bukan ibu sempurna, tapi ibu yang mau berusaha di tengah rasa apapun yang aku rasakan."

 

Jika kamu adalah ibu yang mengalami rasa sakit dan lelah pasca melahirkan, kamu tidak sendiri. Semua yang kamu rasakan itu valid. Kamu bukanlah ibu yang buruk meski kamu tidak berpura-pura kuat. Kamu bukan ibu yang buruk ketika menumpahkan segala cerita dan perjuangan dibalik proses kehamilan dan kelahiran yang tidak mudah. Kamu bukanlah ibu yang buruk meski kamu merasakan bahwa memiliki anak adalah sesuatu yang berat. Kamu adalah ibu yang hebat, yang kuat, yang kompeten, yang utuh karena kamu mampu bangkit meski sakit. 

 

Tulisan ini bukan untuk menakut-nakuti, tapi tulisan ini adalah prosesku mengeluarkan keramaian dalam kepalaku tentang apa yang sudah aku lalui, dan tulisan ini adalah cara aku menyapa para ibu di luar sana, kamu mungkin salah satunya, yang merasakan rasa sakit seperti yang aku rasa, bahwa kamu tidak sendiri. Kita berada dalam perahu yang sama. Kita berada dalam jalan perjuangan yang sama.

 

Menuju Genap Setahun Menjadi Seorang Ibu

Lalu, setelah hampir setahun ini menjadi seorang ibu dan melalui fase berat melahirkan dan pasca melahirkan saat itu. Apa yang aku rasakan sekarang?

 

Beyond Happy.

 

I feel content. 

 

Benar-benar bahagia. Lebih dari rasa senang biasa, tapi rasa bahagia dan rasa tenang, juga rasa cukup yang teramat indah dirasakan. Melihat anak dari yang awal kelahirannya hanya bisa tidur dan menyusu, kini anakku bisa berjalan, bisa bermain cilukba, bisa tertawa-tawa, bisa memeluk ibunya dan memandangi dengan penuh cinta. Seumur hidup, tidak pernah aku merasakan rasa cinta yang sedalam ini, dan tidak pernah aku merasakan rasa dicintai setulus ini--tentunya selain oleh suami ya hehe. Tapi beneran, lho. Rasa cinta ini berbeda dengan rasa cinta pada suami, dan bagaimana anakku ingin selalu dekat denganku, sebagaimana aku adalah sosok yang bisa membuatnya nyaman dan aman, dicintai sedalam itu oleh makhluk kecil ini adalah sebuah anugerah yang tidak pernah terkira. 

 

Meski saat kelahirannya, mungkin rasa sakit pasca melahirkan tidak langsung hilang ketika melihat wajahnya, namun seiring berjalannya waktu, seiring tubuh memulih, seiring kita bisa tahu ritme tidurnya, ritme makannya, ritme aktivitasnya, perjalanan menjadi ibu adalah perjalanan yang luar biasa indah. 

 

Untuk ibu lain yang tengah membaca ini dan mungkin masih berada di fase post partum, tubuh yang belum pulih, menyusui yang masih sakit, aku ingin bilang:

 

Kamu tidak sendiri. Things will get better. You will get better. Your child is beyond grateful to have you. 

 

Tentunya di depan sana, masih akan ada lebih banyak tantangan lagi. Ibu-ibu yang lebih berpengalaman di luar sana mungkin akan bilang, "Belum tahu aja nanti." Hahahaha. Enggak apa-apa. Aku mau menjalani perjalanan panjang menjadi seorang ibu ini selangkah demi selangkah. Belajar sedikit demi sedikit. 

 

Semalam, ketika aku melihat bayiku tertidur lelap. Tidak terasa air mata mentes begitu saja. Bukan, bukan karena teringat rasa melahirkan yang sakit, tapi betapa bersyukurnya aku bisa menjadi ibu, merasakan naik turunnya perasaaan, melihat janin yang dulu hanya dilihat dari foto ultrasonografi, sekarang sudah bisa berjalan. Jika ditanya, melahirkan itu sakit atau tidak? Ya. 

 

Is it worth it?

 

A thousand times, Yes!

 

 

Haruskah Ibu-Ibu Menulis?

12/12/2022

 

Menjadi seorang ibu adalah anugerah. Kita dianugerahi anak yang memanggil kita Ibu (atau apapun panggilannya). Namun, tak banyak yang membahas bahwa anugerah itu datang dengan sederet kekhawatiran, beribu-ribu kegelisahan dan pikiran yang menghantui.

 

Apakah aku sudah jadi ibu yang baik? kapan luka melahirkan ini sembuh dan aku kembali ke tubuhku semula? bagaimana kalau anakku sakit? apa yang harus aku lakukan jika ia sulit menyusu? temanku sudah mencapai posisi karir tertentu, apakah aku ketinggalan? anak tetangga sudah bisa berlari, anakku gimana? makananku enak enggak, ya? setrikaan kapan bisa kukerjakan? suamiku kecewa enggak ya sama aku? Aku lelah, kapan aku bisa me time? kapan aku bisa ngobrol sama temanku? dan jutaan pikiran lainnya.


Kadang, luka yang kita rasakan baik fisik setelah melahirkan atau luka-luka inner child yang muncul tiba-tiba akan semakin bising di kepala.


Sebenarnya dari pasca melahirkan, ingin sekali menuliskan ini itu, tapi rasanya sudah lelah mengurus newborn, dan pikiran yang kebingungan bikin membuat aku makin lelah juga. Keinginan menulis ditunda saja terus sampai akhirnya menumpuk di kepala, tidak kemana-mana, tetap di sana, menatap dan menunggu kapan untuk dituliskan. Maka, ya aku menulis di sini.


Jika ditanya, apakah ibu-ibu harus menulis? jawabanku, tidak harus. Tapi, kalau mungkin ingin suara dalam kepala ini terurai, menulis bekerja baik untukku.


Kalau kamu juga seorang ibu, dan merasakan hal yang sama denganku, itu artinya tulisan ini bisa membuatku dan kamu sebagai pembaca di luar sana, tidak merasa sendiri. Bisa jadi tulisanmu juga begitu.


Apakah ibu-ibu harus menulis? tidak harus. Tapi, aku akan sangat senang jika kamu, seorang ibu, mau. Jika tidak, kamu bisa tetap di sini dan membaca ceritaku.


Kalau kamu menemukan tulisan ini, selamat datang, silakan masuk. Semoga kamu bisa jadi temanku bercerita tentang bagaimana ibu baru ini mengarungi hari-hari yang sebenarnya ya bisa jadi biasa saja.


Meski biasa saja, bukankah tetap bisa jadi anugerah?

Kau Tidak Bisa Mencintai Orang Lain, Sebelum Kau Mencintai Dirimu Sendiri, Kata Mereka.

6/22/2019

Entah di mana aku pertama kali menemukan kalimat itu. Kalimat yang rasa-rasanya sulit untuk kutelan utuh. Karena, bagaimana bisa aku menyayangi orang lain? Sedangkan mencintai diriku adalah hal yang kurasa paling sulit kulakukan sejak dulu.

Seseorang pernah bertanya padaku tentang apa yang kucintai dari diriku, kelebihan apa yang aku miliki menurutku. Tapi aku bergeming. Aku berusaha mencari-cari kata-kata baik untuk menggambarkan diriku, tapi tidak pernah bisa aku temukan. Dan semua kata-kata yang orang lain susun tentang hal-hal apa yang mesti aku cintai dari diriku terasa asing di dalam telingaku sendiri.

Jika kita kembali pada kalimat bijak kata mereka tentang ketidakbisaan untuk mencintai orang lain, sebelum mencintai diri sendiri, maka kesimpulannya adalah aku tidak pernah bisa mencintai orang lain. Begitu, kan?

But, guess what?

I did it anyway. And I hope I’ll do it again over and over.

Dalam ketidakbisaanku mencintai diri sendiri, aku menemukan cinta pada wajah teman-temanku; atas kebaikan apapun yang mereka lakukan, terlebih sahabat-sahabat yang bertahan berada di sisiku hingga sekarang. Mereka yang secara tiba-tiba memberi kejutan-kejutan kecil yang membahagiakan, yang mendoakan, yang menyemangati, atau yang berbagi perhatian dengan berbagai bentuk berbeda. God, I love them so much!

Melanjutkan pendidikan ke dunia pendidikan pun membawaku untuk sukarela memberikan hatiku pada tiap jiwa yang ada di dalam kelas. Pada setiap anak yang kutemui di dalam atau di luar kelas, pada setiap anak yang menyeretku ke sudut lain di sekolah untuk mereka bagikan sedikit kisah tentang hidup mereka, pada setiap anak yang bahkan tidak suka dengan pelajaran yang aku bawa ke hadapan mereka. Tapi ujungnya, aku memutuskan mundur seutuhnya saja dari dunia pendidikan itu, karena aku tidak bisa mengendalikan rasa sayang yang terlalu berlebihan ini. Tapi tetap saja, doa untuk mereka selalu aku sematkan.

Dan tidak perlu waktu lama bagiku untuk terharu dan berkaca-kaca setiap kata tentang keluarga muncul ke permukaan. Betapa aku harap mereka memiliki seluruh kebahagiaan di dunia.

Belum lagi guru, dosen, senior-senior yang mau membimbingku hingga saat ini. Bagaimana aku tidak mencintai mereka? Mereka adalah orang-orang yang berilmu yang ketika ilmunya semakin bertambah, justru semakin tercemin perilaku yang rendah hati.

Bagaimana bisa aku tidak mencintai mereka, meski aku belum bisa mencintai diriku secara utuh?

Dalam perjalanan panjang hidup ini, akhirnya aku menemukan cara untuk mencintai diriku sendiri, bersamaan dengan perjalanan aku mencintai orang lain. Sekarang akhirnya aku menyadari bahwa Yang Maha Menguasai Semesta saja begitu mencintai diriku dengan mengirimkan orang-orang baik dalam hidupku, kenapa aku yang tidak memiliki apa-apa ini dan bukan siapa-siapa ini begitu angkuh untuk tidak memaafkan dan tidak mencintai diriku sendiri? Kenapa aku seangkuh itu ya dulu?

Gelombang kesyukuran itu membasuh tubuhku seutuhnya. Aku belajar mencintai diriku sebagai bukti aku begitu mencintai Pencipta yang menciptakanku.

Aku berterima kasih juga pada diriku yang dulu atas tindakan berani untuk mencintai orang lain, meski di saat aku kesulitan mencintai diriku sendiri. Banyak yang menunggu untuk dicintai, namun tidak semua orang cukup berani dan cukup kuat untuk berusaha mencintai orang lain. Kini, yang aku lakukan adalah untuk tidak lagi membeda-bedakan cinta mana yang untuk orang lain, cinta yang mana untuk diriku sendiri. Kini aku belajar melakukan keduanya, seutuhnya.

Jika kau masih belum mencintai dirimu sendiri, tidak ada salahnya tetap menebar kasih dan sayang pada sesama, kan? Tidak ada salahnya berbuat baik, meski kau rasa dirimu belum baik. Tidak ada salahnya untuk tersenyum, meski hatimu masih terluka. Tidak ada salahnya menyalakan cahaya bahagia pada diri orang lain, meski kau rasa bahagiamu sendiri saja belum utuh adanya. Tidak ada salahnya melakukan urutan-urutan kehidupan berbeda dengan orang lain. Tidak ada salahnya.

Anyer, Suatu Hari

12/30/2018

Suatu hari, 2 tahun lalu, saya mengunjungi dua sahabat baik saya di Banten. Menengok satu orang di Serang--namanya Syifa--kemudian "menculiknya" ke Anyer untuk menemui satu orang lagi yaitu Aam. Perjalanan dari Serang ke Anyer butuh waktu tidak cukup lama, sepertinya kurang dari satu jam dengan mengendarai sepeda motor. Aam mengajak seorang saudaranya untuk bergabung dengan perjalanan kami. Saya saat itu ingin pergi ke Pantai Karang Bolong, dan ketiga orang Banten itu mengiyakan keinginan saya. Beruntung sekali punya mereka.

Ketika kami sampai di tempat parkiran motor Pantai Karang Bolong, kami kaget dengan biaya parkir yang mahal, kalau tidak salah 15ribu rupiah atau lebih ya. Saya lupa. Belum lagi biaya masuk pantai Karang Bolong yang juga mahal (Lagi-lagi saya lupa berapa harganya). Lumayan itu ongkosnya bisa dipakai jajan saya selama berkunjung di sana. Hehe. Akhirnya setelah masuk ke parkiran dan menanyakan harga parkir, kami pergi dari parkiran tersebut dan tidak jadi parkir. Haha. Sekere itu saya.

Teman saya yang bahkan orang Anyer juga tidak bisa menawar cantik, jadilah kami pergi ke pantai lain di sebelah pantai Karang Bolong, yang tidak banyak dikunjungi orang. Bahkan lebih tepatnya, tidak ada yang mengunjungi. Di pantai itu, ada satu warung dan dermaga yang belum jadi. Kamipun memutuskan untuk menghabiskan waktu di pantai gratis dan sepi itu. Yang penting saya bisa menghabiskan waktu dengan teman-teman saya, pemandangan indah ya bonus.

Ketika kami sampai di pantai itu, saya melihat anak-anak bergelantungan di atas pohon. Saya berteriak ke arah mereka, "Nujuuu naooon?" ("Lagi ngapain?")
"Biasa teh! Ulin!" (Biasa aja, Teh. Main.)
Ketika saya mengarahkan kamera ke arah mereka, mereka semakin cari perhatian dan heboh.



Tidak lama kemudian, mereka turun dari pohon. Masih cekakak-cekikik. Saya masih terus mengajak mereka mengobrol dan mereka semakin bersemangat. Akhirnya mereka melepas baju mereka seluruhnya (Ya! Seluruuuuhnya!) dan melompat ke dalam air laut.

"Teh, poto atuh teeeeh!" (Teh, poto dong teh!)

Mereka semakin heboh menunjukkan atraksi-atraksi di dalam air. Tapi, tidak bisa saya tampilkan semua. Karena tidak lulus sensor. Hahahaha. Lalu saya izin untuk berfoto di tempat lain, dan mereka masih melanjutkan renang asyik mereka.


Sebuah Jalan Pintas

Ada beberapa spot foto menarik di pantai sepi itu. Kami berfoto sana-sini. Lalu, karena masih penasaran dengan pantai Karang Bolong yang mahal itu, saya bertanya pada anak-anak itu ada tidak jalan pintas ke Karang Bolong tanpa harus bayar.

"Ayaaaa, teh!" (Ada, Teh!)

Kemudian, mereka memakai baju mereka dengan badan yang masih basah, satu orang membawa sebuah bola dan berkata, "Asal engke kudu maen bola" (Asal nanti harus main bola)

"Ah, gampang eta mah" kataku

Kemudian mereka mengajak kami berjalan dan melewati suatu jalan rahasia yang sepertinya tidak boleh saya sampaikan di sini. Karena itu rahasia kami. Haha Semoga kenekatan ini diampuni dan dimaafkan. Ketahuan kan jadinya kami ini penyelundup kere (Diposting pula di Internet, Sar!)

Setelah kami tiba di pantai Karang Bolong dengan selamat dan tidak ketahuan petugas setempat, kami berfoto sana-sini. Sepanjang bermain dan berfoto di area Pantai Karang Bolong, anak-anak pemandu itu terus meminta kami untuk bermain bola. Ya, mereka mengingat janji saya sejak awal. Janji bermain bola itu yang membuat mereka mau menunjukkan jalan pintas nan berbahaya ke dalam pantai Karang Bolong. Akhirnya saya dan teman-teman saya menyanggupi. Permainan bola di pinggir pantai itu adalah permainan bola paling epik. Bukan karena tim saya dan teman-teman lain kalah, tapi juga karena saya tidak menyangka, bermain bola dengan kami saja sudah membuat mereka sebahagia itu.

Iya, senyuman mereka secandu itu!

Candu senyuman itu yang membuat saya selalu berusaha mencari anak-anak di setiap perjalanan. Selalu ada keajaiban-keajaiban kecil yang membuat perjalanan saya menjadi menarik jika mengikuti anak-anak.





Tsunami Selat Sunda pada Desember 2018

Ketika berita tentang tsunami menghantam Anyer, saya langsung teringat dengan teman-teman saya di sana. Syukurlah mereka aman, karena memang rumah mereka jauh dari pantai dan berada di dataran tinggi. Lalu, saya juga teringat pada anak-anak itu. Dua tahun memang sudah berlalu, saya juga sudah lupa dengan nama-nama anak itu, tapi kebahagian saya hari itu nampaknya tidak juga meluruh. Kebahagiaan dari kenangan itu kemudian berbuah kekhawatiran akan kondisi mereka.

Saya juga membayangkan begitu banyak anak-anak yang bahagianya mungkin terenggut seketika, orang tua-orang tua yang kehilangan anaknya, atau anak-anak yang kehilangan orang tuanya, atau masyarakat lain yang kehilangan orang-orang yang mereka cintai.

Saya melayangkan doa banyak-banyak untuk mereka, juga untuk seluruh masyarakat yang terkena bencana tsunami, baik di Anyer maupun Lampung. Saya berharap mereka dalam keadaan yang baik, jikapun ternyata kemalangan menghampiri mereka, saya berharap mereka diberi kekuatan untuk melalui bencana ini dengan ikhlas. Dan saya harap menemui senyum mereka lagi, antusias mereka lagi, semangat mereka lagi, kebahagiaan mereka lagi.

Stay Strong, Anyer dan Lampung.

Cinta yang Cukup

10/04/2018

Hati-hati berbagai bentuk lewat dibawah badai. Wajahnya rupa-rupa, senyum, murung, penuh amarah tapi berhati hujan atau pada sudut-sudut dan ruang tersembunyi penuh badai tiada yang tahu.

Dengan hati yang juga sama-sama hujan, aku menyurati Sang Pemilik Semua Hati, meminta untuk diberikan cinta yang cukup untuk setiap wajah-wajah berbagai bentuk dan hati yang sama-sama hujan.

Tangan selemah aku tak akan sanggup menahan semua beban dan tak akan sanggup memayungi semua hati satu satu agar hujan tak lagi mengenai mereka. Hati yang juga kecil dan rapuh ini tak cukup untuk dibagikan untuk menambal semua hati yang robek sana-sini, maka apa yang bisa aku lakukan selain menulis surat pada Sang Pemilik Cinta untuk memberikan cinta yang cukup pada mereka.

Cinta yang cukup untuk menemani mereka berteduh sekali-kali, dan menemani menari kala hujan tak kunjung usai. Cinta yang cukup untuk menambal celah-celah hati mereka agar kembali utuh, meski hidup akan meluluhlantakannya lagi. Cinta yang cukup untuk mereka dan cukup untuk mereka bagikan pada tubuh-tubuh lainnya. Cinta yang cukup untuk mereka mencintai-Mu, Wahai Maha Cinta.

Berikan aku cukup cinta, agar yang keluar dari mulutku adalah cinta bukan caci. Meski mungkin aku bisa lupa dan malah menyakiti, maka berikanlah aku cukup cinta untuk mampu menyembuhkan yang tersakiti oleh tubuh yang ringkih ini.

Beri aku cinta yang cukup, untuk mencintai-Mu dan membagikan cinta karena-Mu.